KESET

KESET! a.k.a Welcome, haha selamat datang, selamat baca-baca, selamat menikmati, selamat komen, selamat kritik, :)

Tampilkan postingan dengan label cerita ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita ringan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

WHAT's THE BEST THING IN YOUR LIFE STILL FREE?

Selain Tuhan, nafas, dan keluarga, hal yang terbaik yang saya punya yang masih “FREE” sampai detik ini adalah ‘sahabat’. Yupz!. Ga kebayang kalau punya sahabat itu harus beli dan dikenai pajak. Makin kaya makin banyak sahabatnya. Makin miskin makin melarat, menderita, dan kesepian. PERFECTO!. Kalau beneran bayar nanti pas harga BBM naik, harga persahabatan juga naik, nanti para pejabat kita ribut lagi ngomongin harga persahabatan, nanti pemerintah ngeluarin kebijakan pembagian sahabat gratis untuk kalangan tunasahabat. Haha makin aneh, maaf.

Sebenernya sahabat itu menurut mbasist dan masbro tuh yang kayak gimana sih? Pernah ada sahabat saya ngirim short messages yang isinya kurang lebih seperti ini:

  •   SAHABAT itu orang yang mau memahami saat kita berkata “hehe, gue lupa”
  •   Orang yang mau menunggu saat kita berteriak “TUNGGUIN! :(
  •   Orang yang ikut menangis bersama saat kita mengadu “gue DIPUTUSIN” (okay, untuk point ini gue pribadi say BIG NO DEAL! Haha)
  • Orang yang tidak punya dendam saat kita bilang “BAWEL lu ah!”
  • Orang yang selalu membantu saat kita meminta “Bantuin gue DONG!”
  •  Dan orang yang masih bisa tersenyum meski kita bilang “MALES GUE SAMA LU!”

Nah, karena itu Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Semua orang bebas memilih sahabat terbaik mereka. Kita kan makhluk sosial mbasist dan masbro, hehe. Jadi bersyukurlah pada Tuhan telah memberikan kita sesuatu yang gretongan alias gratisan :).

Malam ini saya ingin berbagi rasa syukur, karena ga bisa ngadain syukuran (yang kudu, mesti, wajib, ngundang minimal para pengurus RT, juga tetangga samping kanan, kiri, depan, belakang, iya kalo Cuma satu orang, kalo sekeluarga ada empat orang? Kalikan jumlah mereka dengan harga nasi yang akan mereka makan, juga ayam bakar dan air mineralnya, oke ini makin ngaco, sekali lagi maaf, hehe), jadi saya mau mengundang mbasist dan masbro di blog ini saja yaa, murah, meriah, dan “still free” hehe.

Jadi begini ceritanya. Saya dilanda malam yang cukup membuat gundah gulana (halaah…). Tetapi saya dituntun oleh kedua sahabat saya untuk kembali ke jalan yang benar. Beruntung sekali saya memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Yang satu memberi saya banyak sekali nasihat-nasihat juga saran yang lagi-lagi gratis!. Dan yang satu lagi dengan berbaik hati mau merasa senasib sepenanggungan! Huahaha. Yang penting kan ada temen dalam suka dan duka. Pokonya mereka membuat malam yang penuh gundah gulana ini menjadi malam yang penuh rasa syukur.


Mereka adalah dua makhluk aneh bin ajaib. Haha, yang satu tinggi, gede, keriting. Dan yang satu lagi, kecil, latah, fobia akut!. Hehe, but, besides all, they’re so special for me! Thanks guys for a chit-chat tonight! Beruntung banget bisa kenal kalian. Terimakasiiiiiiiiiiiih…

Salam dari langit senja!

Senin, 26 Maret 2012

Sepiring Siomay

Cukuplah hari ini begitu melelahkan bagi ku. Namun sepertinya kota ini takkan pernah lelah memanjakan penduduknya. Bahkan semakin malam, semakin meriah saja sambutannya. Maka aku pun memutuskan untuk memanjakan diri dengan kota ini malam ini.
    Aku memilih duduk di sebuah warung siomay kaki lima di emperan taman. Ternyata warung tersebut penuh dengan penikmat setianya. Maka dengan sabar aku menunggu pengunjung hingga salah satu dari mereka selesai makan. Dalam penantianku sempat terlintas dalam benakku apa yang akan terjadi jika para pedagang kaki lima ini tidak diperbolehkan berjualan? Apa yang akan terjadi dengan istri dan anaknya di rumah? Lalu bagaimana para penduduk kota ini mendapatkan sedikit penghiburan di tengah segala macam persoalan yang menghimpit mereka. Ah… kota!.
    Tak lama seorang pasangan muda-mudi mempersilakanku duduk. Mereka telah selesai rupanya. Maka akupun langsung duduk menempati kursi tersebut. Aku memesan sepiring siomay dan segelas teh hangat. Sambil menunggu pesanan ku datang, aku memperhatikan orang-orang yang berada di hadapanku. Sepertinya mereka adalah seorang paman dengan dua keponakannya. Mereka terlihat sangat akrab dan saling menggumamkan lelucon. Sesekali bahkan aku tak bisa menahan senyumku saat mendengarkan lelucon mereka.
    Siomay pesananku datang. Sebenarnya aku tidak lapar. Maka dari itu, aku makan dengan sangat perlahan. Lalu perhatianku beralih pada seseorang di warung soto yang berada di sebelah warung siomay ini. Si bapak ini sedang bercerita mengenai kehidupannya kepada kedua tukang soto. Tanpa sekat antar warung, maka akupun dapat mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. “dahulu, ketika tahun ’98 saya mempunyai sebuah usaha hingga saya benar-benar sukses. Saya mempunyai dua buah mobil Vios, sebuah BMW, hingga saya punya tiga ekor kuda. Saat itu laba perusahaan saya hingga bermilyar-milyar. Namun sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 2008 saya mengalami kebangkrutan…” ujar si bapak tersebut. Salah satu tukang soto sangat berminat mendengarkan ceritanya, sedangkan tukang soto yang lainnya terlihat tidak berminat untuk mendengarkan dan meninggalkan temannya dan bapak itu melanjutkan ceritanya. Begitupun aku, aku tak berminat mendengarkan ceritanya karena hal itu terlalu klise bagiku.
    Aku kembali memasukan sesuap siomay ke dalam mulutku. Lalu perhatianku teralih kepada sebuah keluarga muda yang berada di sebelah kanan ku. Mereka terlihat harmonis dan hangat. Sepasang orang tua muda dengan kedua anaknya. Si sulung mungkin baru kelas dua sekolah dasar, dan si bungsu baru memasuki taman kanak-kanak. Mereka harmonis di tengah para politikus-politikus yang saling tuduh yang merupakan salah satu kekejaman kota.
    Masih dengan siomay ku yang tinggal separuh, suara si bapak yang berada di tukang soto kembali menarik perhatianku. “dulu saya tinggal di perumahan elit yang ada di seberang taman ini. Namun anak saya mempunyai alergi debu hingga harus dioperasi. Dan saya telah menghabiskan dana hingga 13 juta untuk biaya operasi…”tutur bapak itu. Si tukang soto nampak makin bergairah mendengar cerita tersebut. Sedangkan tukang soto lainnya mulai nampak mencibir dari balik gerobaknya. Dan aku justru tersenyum mendengar mereka. Kejamnya kota. Segala kesulitan yang ada membuat penduduknya lebih pandai untuk berkhayal. Ketika aku kembali memasukan siomay ke dalam mulutku ternyata salah seorang keponakan dari paman yang ada di hadapanku tersenyum melihatku. Aku rasa aku mengerti dengan senyuman itu. Senyuman untuk semua cerita si bapak yang berada di tukang siomay.
     Lalu aku terus mengikuti cerita si bapak itu. “salah satu mertua saya telah meninggal. Beliau adalah seorang habib. Beliau meninggal ketika sedang memimpin jemaah shalat dzuhur. Beliau wafat dalam keadaan sujud. Ketika dibangunkan oleh salah satu jamaah, beliau telah tiada...”, ucap si bapak itu. Si tukang soto semakin terbawa dengan ceritanya. Ia berucap ‘subhanallah..”. Namun entah mengapa sulit bagiku untuk mempercayai cerita tersebut. Yang terjadi justru senyumku semakin mengembang mendengar cerita tersebut.
      Aku sampai pada suapan terakhir siomay ku. Pemuda yang ada dihadapanku telah bersiap meninggalkan mejanya. Ia menulis sesuatu pada selembar tissu dan memberikannya padaku. Lalu ia segera meninggalkan warung siomay ini. Aku membaca pesan dalam tissu itu inilah kekejaman kota yang sesungguhnya :-) . Maka senyumku pun semakin melebar.